PEKANBARU, KOMPAS.com - Sebuah kapal kayu kecil bermesin (pompong) tenggelam di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (19/2/2010), mengakibatkan dua orang penumpang hilang.
Tim SAR bersama masyarakat masih melakukan pencaharian terhadap dua penumpang pompong yang hilang. Kapolres Pelalawan AKBP Arie Rahman menjelaskan, insiden tersebut terjadi saat pompong yang berisi lima orang termasuk nakhoda berangkat dari Kecamatan Pelalawan untuk menyerangi Sungai Kampar. Penumpang yang dinyatakan hilang, yakni Suranieny dan Sukoto.
Sedangkan, dua yang selamat adalah Mutaji, Bayu dan nakhoda (tekong) yakni Jhon Arijal. Menurut laporan, ujar Kapolres, kapal tiba-tiba oleng di tengah sungai.
"Tekong pompong melompat dikira kapal kelebihan beban. Tapi ternyata bukannya pompong kembali stabil, justru tambah oleng dan terbalik," ujarnya.
"Dua korban yang hilang kemungkinan terseret arus sungai," lanjutnya.
Ia mengatakan, lokasi kejadian cukup jauh sehingga polisi telat mengirimkan bantuan. Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WIB, namun laporan baru diterima polisi sekitar pukul 19.00 WIB.
Selengkapnya...
Jumat, 19 Februari 2010
Kapal Tenggelam, Dua Penumpang Hilang
Wenger Bela Fabianski
LONDON, KOMPAS.com - Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, tetap memberikan dukungan penuh kepada kiper Lukasz Fabianski. Sebagai sebuah tim, Arsenal harus memikul beban bersama.
Fabianski menjadi pemain yang paling bertanggung jawab atas kekalahan "The Gunners" pada leg pertama 16 besar Liga Champions lawan FC Porto, Rabu (17/2/2010) lalu. Kiper asal Polandia itu melakukan dua kesalahan yang membuat gawangnya kebobolan dua kali. Arsenal akhirnya kalah 1-2.
Jelang duel versus Sunderland, akhir pekan ini, Wenger kemungkinan besar masih akan mengandalkan Fabianski di bawah mistar. Seraya berharap akan kesembuhan Manuel Almunia, sang pelatih yakin bahwa Fabianski sudah cukup matang menjadi kiper profesional di usianya 24 tahun saat ini.
"Kami harus menunjukkan dukungan untuknya dan memperlihatkan solidaritas. Kami harus menunjukkan keistimewaan klub dan kebersamaan, kami menang dan kalah sebagai tim," kata Wenger.
"Dia pernah bermain dan memenangi kejuaraan di Polandia. Saya percaya pada kiper-kiper saya. Saya percaya bahwa dia akan menjadi kiper hebat. Dia kurang beruntung (lawan Porto)," tambahnya.
Fabianski selama ini hanya menjadi cadangan Almunia di Premier League. Ia baru bermain di ajang Piala FA. Sebelum lawan Porto, Fabianski baru sekali main di Liga Champions musim ini, yakni ketika kalah lawan Olympiacos
Selengkapnya...
Jumat, 18 Desember 2009
Apakah Manusia Masih Berevolusi?
KOMPAS.com — Manusia modern (Homo sapiens) masih terus berevolusi. Meski banyak yang meyakini bahwa seleksi alam telah berhenti karena kini hampir setiap orang hidup cukup lama untuk memiliki anak, penelitian baru dari Massachussets mengenai populasi membuktikan bahwa evolusi masih berlangsung.
Sebuah tim peneliti yang dipimpin ahli Biologi Evolusi Universitas Yale, Stephen Stearns, mendapati bahwa seleksi alam tak lagi didorong kemampuan survival, tetapi tergantung pada perbedaan kesuburan perempuan. “Variasi dari kesuksesan reproduksi masih ada di antara kita sehingga beberapa sifat yang berhubungan dengan kesuburan terus dibentuk oleh seleksi alam,” kata Stearns. Artinya, wanita dengan lebih banyak anak akan lebih mudah menurunkan sifat-sifat tertentu pada keturunannya.
Tim Stearns memeriksa statistik 2.238 wanita pasca-menopause yang berpartisipasi pada Penelitian Jantung Framingheart, yang mencatat sejarah medis 14.000 penduduk di Framingham sejak 1948. Para peneliti mencari hubungan antara karakteristik fisik wanita—termasuk tinggi, berat, tekanan darah, serta kadar kolesterol—dan jumlah keturunan mereka.
Mereka menemukan, wanita yang gemuk (bukan kegemukan) cenderung memiliki banyak anak. “Wanita dengan kadar lemak yang sedikit, tak berovulasi,” ujar Stearns. Hal sama juga terjadi pada wanita dengan tekanan darah dan kadar kolesterol yang rendah.
Menggunakan analisis statistik canggih yang memasukkan faktor-faktor sosial dan budaya yang bisa memengaruhi angka kelahiran, para peneliti menemukan bahwa ciri-ciri tersebut diturunkan dari ibu ke anak perempuan dan cucu perempuannya.
Bila tren tersebut terus berlanjut tanpa perubahan hingga 10 generasi mendatang, rata-rata wanita Framingham pada tahun 2409 akan lebih pendek 2 cm, 1 kg lebih berat, mempunyai jantung yang lebih sehat, memiliki anak pertama 5 bulan lebih cepat, dan memasuki menopause 10 bulan lebih lambat dari wanita sekarang.
“Evolusi ini berjalan lambat, tapi mirip dengan apa yang kita lihat pada tumbuhan dan hewan. Sepertinya tak ada pengecualian terhadap manusia,” ujar Stearns mengenai penelitian yang dipublikasikan pada 21 Oktober dalam Procceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Douglas Ewbank, seorang demografer di Universitas Pennsylvania yang juga berperan dalam analisis statistik, mengatakan bahwa faktor budaya yang cenderung berdampak lebih menonjol dari seleksi alam pada pembentukan generasi mendatang menyebabkan orang-orang cenderung menyepelekan efek evolusi.
“Perubahan yang kita ramalkan tahun 2409 dapat saja terhapus oleh hal sederhana, seperti, katakanlah, program makan siang di sekolah. Namun, apa pun yang terjadi, tahun 2409, wanita Framingham cenderung akan lebih pendek 2 cm dan 1 kg lebih berat dibanding mereka yang tidak mengalami seleksi alam. “Evolusi merupakan proses yang lambat. Kita tak melihatnya pada kakek nenek kita, tapi seleksi itu ada.”
Sementara itu, Steve Jones, ahli biologi evolusi di Universitas College London yang pernah mengatakan bahwa evolusi manusia mendekati akhir, menganggap studi Framingham merupakan contoh penting bagaimana seleksi alam masih berjalan melalui perbedaan kemampuan reproduksi. Namun, Jones menganggap bahwa variasi kesuburan wanita seperti yang diukur dalam studi Framingham kurang penting dalam mempengaruhi evolusi manusia, dibanding variasi kesuburan pria. Menurutnya, sperma memiliki lebih banyak kemungkinan mutasi dibanding indung telur, terutama di kalangan pria berusia lebih tua.
"Bila dahulu lazim jika seorang pria memiliki banyak anak di usia senja dari beberapa istri, kini pria cenderung hanya memiliki satu istri dan sedikit anak di usia muda. Berkurangnya jumlah ayah berusia senja memiliki efek pada laju mutasi dan mengurangi munculnya diversitas baru. Padahal, inilah yang menjadi material utama evolusi," kata Jones. "Namun (meski materi evolusi makin jarang) mesin evolusi Darwin tidaklah berhenti. Ia hanya menjadi sangat melambat."
Selengkapnya...
Apa Ada Gurita Bercangkang Batok Kelapa?
SYDNEY, KOMPAS.com– Para ilmuwan Australia telah menemukan gurita di Indonesia yang mengumpulkan batok kelapa untuk dijadikan rumah. Ini bisa jadi merupakan penemuan perilaku tingkat lanjut yang pertama bagi binatang invertebrata (tanpa tulang belakang) yang mampu memakai alat.
Para ilmuwan memfilmkan gurita Amphioctopus marginatus itu yang tengah memilah kumpulan batok-batok kelapa di dasar lautan, mengosongkan isinya, dibawa di bawah tubuhnya sejauh 20 meter, dan kemudian mengatur dua batok sehingga membentuk bola tempat bersembunyi.
Julian Finn dan Mark Normann, dari Musium Victoria di Melbourne, selama beberapa kali mengunjungi Sulawesi Utara dan Bali untuk menyelam, antara periode 1998 sampai 2008, telah melihat aktivitas janggal dilakukan oleh empat gurita berbeda. Penemuan mereka diterbitkan, Selasa (15/12/2009) di majalah Current Biology.
"Saya sampai tercengang," kata Finn, seorang peneliti pakar biologi dari musium yang berspesialisasi pada Cephalopoda. "Maksudku, aku sering melihat gurita bersembunyi di balik batok kelapa, tapi aku tadinya belum pernah melihat ada yang bisa mengambil batok, dan menariknya. Aku sampai harus menahan tawa."
Gurita seringkali memakai barang apa saja untuk berlindung. Tapi para ilmuwan telah menemukan bahwa gurita berpembuluh darah itu selangkah lebih maju karena bisa menyiapkan batok-batoknya, dengan cara membawanya cukup jauh, lalu mengaturnya di tempat lain.
"Itu adalah contoh pemakaian alat, yang mana belum pernah ditemukan pada mahluk invertebrata sebelumnya," kata Finn.
"Bedanya dari umang-umang darat ialah gurita ini mengumpulkan batok-batok untuk digunakan belakangan, jadi ketika memindahkan batok, gurita itu tak terlindungi," kata Finn. Hal ini unik karena batok itu tak langsung dipakai, berarti gurita itu bisa berpikir untuk masa depan. "Karena bisa mengumpulkan batok untuk digunakan nanti maka gurita ini unik."
Para peneliti berteori bahwa kemungkinan besar jenis gurita itu dulunya memang bercangkang. Tapi begitu manusia tahu membelah kelapa dan membuang batoknya ke laut, gurita-gurita itu menemukan cara yang lebih baik untuk berlindung, tutur Finn.
Penemuan ini berarti, karena ini menunjukkan bahwa hewan mampu untuk menunjukkan perilaku yang lebih rumit, menurut Simon Robson, lektor kepala bidang biologi tropis dari Universitas James Cook di Townsville.
"Gurita memang menonjol sebagai hewan invertebrata yang cerdas," Robson memaparkan. "Mereka memiliki indra penglihatan yang cukup berkembang dan otak yang cukup cerdas. Jadi aku rasa penemuan ini menunjukkan kemampuan perilaku rumit yang bisa dilakukan organisme ini."
Di kalangan ilmiah memang selalu ada perdebatan tentang definisi 'penggunaan alat' dalam dunia hewan, menurut Robson. Para peneliti Australia menjabarkan 'alat' sebagai barang yang dibawa atau disimpan untuk keperluan mendatang. Tapi ada juga ilmuwan lainnya yang beda pendapat, jadi sulit untuk menentukan dengan pasti apakah ini memang perilaku penggunaan alat pada hewan invertebrate atau bukan, kata Robson. Tapi biar bagaimanapun ia tetap menganggap penemuan ini sangat menarik.
"Ini satu lagi contoh yang membuat kita sadar betapa miripnya manusia dengan alam. Kita hanyalah perpanjangan dari planet ini," tandasnya.
Selengkapnya...
Gile Ekspatriat Maling Celana Dalam?
GIANYAR, KOMPAS.com- Maling jemuran mungkin sudah biasa, tetapi kalau ekspatriat ngutil pakaian dalam wanita berupa celana dalam dan bra, itu baru luar biasa.
Tapi itulah yang terjadi pada Mario Ingeborg Pieder Nella (48), ekspatriat asal Belanda. Dia tertangkap basah saat mencuri celana dalam, BH, dan baju yang dipajang di toko seni Blue Glue di Jalan Raya Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
Wanita setengah baya berambut pirang yang kedapatan mencuri pakaian dalam dan baju itu pada hari Kamis (17/12/2009) langsung diringkus petugas serta ditahan di Markas Kepolisian Sektor Ubud. Hingga Jumat ini dia masih menjalani pemeriksaan.
Di sela-sela pemeriksaan oleh polisi, wanita bule itu terlihat mondar-mandir di dalam ruangan Mapolsek Ubud. Berdasarkan pemeriksaan, Nella diketahui telah bertahun-tahun tinggal di perkampungan turis Ubud.
Dalam pemeriksaan yang berlangsung sekitar satu jam, terungkap bahwa pada hari Kamis sore itu Nella yang berprofesi sebagai penata rambut di Ubud nekad mencuri satu celana dalam, satu BH, dan satu baju wanita di Art Shop Blu Glue. Alasannya dia tidak punya uang.
Aksi mengutil itu dilakukan sangat sederhana. Ia berpura-pura berbelanja, setelah situasi aman, dia mengambil sejumlah barang dagangan tersebut. Namun naas, tindakannya itu diketahui pemilik toko, Ni Ketut Septiari (19), warga Banjar Ubud Kelod, Gianyar.
Menurut pemantauan Ni Ketut, awalnya dia melihat melihat gelagat pelaku yang mencurigakan. Usai melihat-lihat baju dan barang dagangan lainnya, pelaku langsung kabur dan tak membayar barang yang dibawanya.
Ketut Septiari langsung melaporkan hal tersebut ke Mapolsek Ubud. Dalam hitungan menit, bule yang tinggal di Banjar Laplapan, Desa Petulu, Ubud itu, diamankan ke Mapolsek Ubud.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Polsek Ubud Ajun Komisaris AA Gde Sena membenarkan kejadian tersebut, dan kasus itu telah dilaporkan kepada Kapolres Gianyar AKBP I Ketut Suardana.
Selengkapnya...





